AKU CINTA ATI SELAYAR



.
27 April 2014 pukul 21:17
Opini : Sahabuddin Tison
         Sejak pertama tampil di Dangdut Akademi, Saya melihat sosok Ati benar-benar memanfaatkan moment yang disaksikan oleh seluruh masyarakat nusantara ini untuk memperkenalkan SELAYAR, dimana Selayar merupakan asal daerahnya, pamor dan kecantikan Selayar dipoles secara diplomatis olehnya, derajat dan martabat orang Selayar kini terangkat oleh seorang Ati, alam Selayar yang menawan seketika muncul ke permukaan hingga masuk ke rangsel-rangsel bagpacker/backpackers Indonesia dan Mancanegara. Ati tidak saja sekedar seorang entertaint, melainkan lebih kepada seorang diplomat ulung, dalam hal ini di bidang destinaso pariwisata, nalurinya begitu jitu melihat celah bagaimana ia menggiring jutaan pasang mata untuk melangkahkan kaki ke negeri Selayar.

        Aku salut, aku harus berdiri dan angkat topi untuk itu, tidak perlu seluruh pemukim di sepanjang pantai bening Selayar itu berteriak, heeii, datang ke Selayar, hanya dengan mengirim wakil terhebat mereka, seluruh pelosok negeri berfikir-fikir girang hendak segerakan ke Selayar, yang muda mendambakan liburan ke Selayar, antropolog tergaruk untuk meneliti, para pasangan mengalamatkan Selayar sebagai tempat mereka ber"bulan madu" kelak, bocah-bocah yang menonton meribut pada Ibunya, Mak ! Ajak Saya ke Selayar, lalu para Bule dengan bahasa aneh itu pun merubah seketika penerbangan mereka ke Selayar, Mahasiswa-mahasiswi pun menyesuaikan kegiatan organisasi dan akademik untuk menggandeng kegiatan sebisa mungkin dilaksanakan di sekitar Pantai Indah itu. Hmmmm ATI, ATI.

         Namun terlepas dari terangkatnya nama Selayar sebagai dampak kepiawaian Ati, lebih daripada itu yang utama adalah Ati sudah menyematkan kebanggan di dada orang-orang Selayar, menjadikan masyarakat Selayar terangkat harkat dan martabatnya, maka tak heran para pemimpin Selayar berbondong-bondong memberikan gelar, mengucurkan rewards yang memang pantas diterima oleh seorang ATI..

Selamat ATI dan salam hangat untuk segenap keluarga besar Selayar.

Aku


Wajah Keamanan Laut Kita (illegal fishing dan aparat)

Oleh Sahabuddin Tison

         Menjaga Sumber Daya Kelautan & Perikanan sudah menjadi tanggungjawab bersama, dibangunnya kemitraan antara masyarakat dengan aparat penegak hukum dan pemerintah sebagai pembina diharapkan mampu menciptakan kondusifitas dalam memanfaatkan SDA tersebut, namun ada yang menarik dari tingkat pelaksanaan di lapangan, selalu saja ada egointerest di masing-masing instansi dan oknum-oknum tertentu dalam memandang persoalan tersebut, adanya keinginan untuk mencari keuntungan sendiri menjadikan setiap oknum menyalahgunakan wewenang yang diamanatkan UU dan regulasi lainnya, hal ini menciptakan maritime criminal, pemerasan, intimidasi, black partnership, kucing-kucingan dll, semisal komunitas fish bombers, para pengebom ikan akan merasa aman jika sudah "membayar" pada aparat, seteleh membayar, pengebom dapat leluasa berkuasa di laut, baik keleluasaan menentukan titik lokasi untuk dibom dan waktu mengebom dengan "paket sepuasnya/semaumu", tak cukup dengan membayar di muka tadi, setelah pulang mengebom, maka para oknum nakal tersebut akan menjemput hasil tangkapan, biasanya saat sedang di laut ataupun setelah pulang, pun tak cukup dari itu, kabarnya ada uang bulanan juga, wah ! Hebat ya, ternyata bomber-bomber kita lebih kaya dan berkuasa terhadap dan daripada seragam oknum itu.
       Kondisi di atas, tidak saja berlaku bagi para pengebom, namun berlaku juga bagi pengguna bius, zat sianida atau potassium, mereka akan merasa aman beroperasi setelah "membeli" keamanan itu dan merasa aman setelah menjadi "nasabah" bulanan seragam oknum itu. Baik bomber atau pengguna potasium, di antara mereka ada juga bahkan yang diancam kalau membayar sedikit atau tidak sesuai dengan yang aparat harapkan, sehingga kondisi ini pula yang membuat mereka tertekan, lain halnya dengan bomber dan potasiers skala makro, tentu akan lebih menguntungkan, sehingga dari yang skala kecil akan lebih baik bagi mereka menjadi lebih besar, ini berarti kerusakan karang yang sempit menjadi diperluas.

       Kemudian perihal kedua, yakni mereka para legal fishing yang ramah lingkungan dan sudah menerapkan standard dan prosedur-prosedur yang benar, namun keadaan ini wah sama saja "memiskinkan aparat" maka harus dijewer/dicubit, tak urung intimidasipun mulai dilancarkan, "salah nomor celanalah, salah ukuran dayunglah, salah warna cat perahulah segala macam" yang penting fulusnya bisa dirogoh, jika tidak maka akan dibentak keras "braaaaak", wah ternyata hebat aparat kita ya ?, sehingga dalam satu kelakar nelayan mengatakan bahwa "oknum aparat itulah sesungguhnya nelayan yang berpenghasilan, bukan kita yang menerjang ombak".
       Melihat konstitusi bahwa di dalam UU No 45 Tahun 2009 Tentang Perikanan bahwa di dalamnya TNI melalui Lanal/sebutan lainnya, Polri melalui Polairud dan Pemerintah melalui PPNS Dinas terkait mempunyai kewenangan yang sama dan berbeda, sama dalam hal pembinaan dan beda dalam wewenang penindakan, namun kenyataan di lapangan selalu terjadi egoinstansi untuk pencitraan, kadang salih menyalahkan, bahkan di beberapa daerah ada yang salah satu dari 3 unsur tersebut yang malah lebih berperan baik dalam hal-hal positif maupun hal-hal menyimpang.
     Ketiga instansi tersebut jika mengajukan pertanyaan perihal maritime securty pasti jawabannya kurangnya anggaran pengawasan, dengan kata lain kurangnya anggaran dari negara untuk membiayai patroli laut, sehingga banyak aktifitas illegal fishing yang tidak terjangkau dan terpantau dan luput dari kegiatan patroli, sehingga anggaranpun ditambah demi efektifitas penjagaan laut. Dengan anggaran yang "besar" maka tidak ada alasan lagi untuk tidak bisa membeli bahan bakar, penambahan personel, perbekalan selama berpatroli, upaya intensifikasi patroli dapat meningkat, namun bak gayung bersambut, oleh oknum aparat tertentu ini manjadi lahan baru, bahkan kabar dari laut ada oknum tertentu yang menjual BBMnya pada nelayan dengan kucing-kucingan biar menunjang dalih bahwa BBMnya habis untuk patroli. It's wonderful.

       Pada lain hal, jumlah populasi nelayan semakin bertambah dangan komparasi jumlah titik penangkapan yang tidak bertambah, sehingga ini menjadi cikal bakal konfli baru saat pada waktu yang bersamaan nelayan memanfaatkan titik penangkapan yang sama, sementara di ranah otoritas yang membidangi teritorial dan kebijakan kelautan perikanan ini tidak pernah difikirkan, kemudian yang lebih seksi lagi ketika terjadi tabrakan lalu lintas laut antar nelayan, tidak ada tempat mengadu dan menuntut segala persoalan laut yang misteri ini, istilah saya "misteri hukum laut".

Bersambung............ (Kebijakan--)

PERAYAAN ACARA KHITANAN DI PULAU BUNGIN DARI MASA KE MASA & TANTANGAN KEHILANGAN JATI DIRI




PERAYAAN ACARA KHITANAN DI PULAU BUNGIN DARI MASA KE MASA & TANTANGAN KEHILANGAN JATI DIRI

 Oleh : Sahabuddin Tison

       Banyak cara yang dilakukan para orang tua untuk melihat anaknya bahagia, tak terkecuali di Pulau Bungin, Sumbawa-NTB, atas nama sayang seorang ibu tak urung mengabulkan permintaan anaknya, lain halnya dengan seorang bapak yang terkadang agak formal dan penuh pertimbangan, namun kembali lagi yang namanya anak kalau sudah minta tak mau ditawar bahkan ditunda pun tak mau.
Baiklah pembaca yang budiman, kali ini kita akan membahas tentang perayaan khitanan di Pulau Bungin. Sebagaimana kita ketahui bahwa khitanan merupakan kewajiban yang melekat pada diri seorang setiap muslim sehingga ada keterkaitan yang sangat erat antara perintah agama dan corak kebiasaan masyarakat dalam mengejawantahkan perintah tersebut.
       Di Pulau Bungin, dimana mayoritas penduduknya adalah suku Bajo, suku yang dikenal sebagai pengembara laut ini punya cara tersendiri dalam merayakan acara khitanan anak-anak mereka, sebelum lebih jauh pada pembahasan, baiknya Saya jelaskan bahwa yang dimaksud "Perayaan" di sini adalah kegiatan bergembira di luar substansi acara yang hanya memotong bagian tertentu alat kelamin pria muslim. Kekerabatan yang sangat kental di dalam masyarakat Bajo Pulau Bungin melahirkan kesamaan pandang dalam merayakan acara khitanan ini, anak yang akan dikhitan akan diarak keliling kampung untuk memperkenalkan bahwa inilah anak yang akan dikhitan, lebih banyak orang yang melihat maka lebih banyak yang tau bahwa itulah anak yang dikhitan, maka untuk menarik perhatian sebanyak mungkin si anak diusung oleh orang banyak (kerabat si anak) menggunakan media/wadah yang sangat menarik.
       Hal inilah yang melatarbelakangi munculnya kreatifitas masyarakat untuk merangkai alat pengusung sehingga tampil menarik, bahkan jauh sebelum hari acara khitanan dimulai, pembuatan alat pengusung ini sudah dipermak sedemikian rupa, ada yang dibuat menyerupai perahu kuno, meyerupai perahu bercadik, phinisi, lambu, lelete (jenis perahu), ada juga berupa Mobil, pesawat terbang, ikan, burung Elang Laut, dll.
Setiap alat pengusung memerlukan pemikiran yang cukup panjang dalam menentukan bentuk yang akan dibuat, menyesuaikan keinginan si anak yang akan dikhitan, pamali-pamali yang mesti dihindari, namun di lain sisi ini menjadi menarik sebab menjelma sebagai ajang adu kreatifitas membuat replika-replika yang unik, tak jarang setiap alat pengusung dicantumkan tulisan-tulisan yang nyentrik, terkadang juga dilengkapi musik tape recorder (dulu). Adapun kapasitas penumpang alat pengusung yang keren itu dua orang, satu orang untuk anak laki-laki yang akan dikhitan dan satu lagi untuk untuk anak perempuan yang tak jauh usianya dengan yang dikhitan sebagai pendamping, mereka pun dihias dengan accesoris adat (*).
Pada perayaan khitan di Pulau Bungin menjadi begitu sakral dan menghibur, sebab mengawinkan perintah agama dengan kreatifitas yang tampil entertaint.
      Namun pada perkembangannya, Kuda Lumping mulai menyasar pada sirkuit alat pengusung yang menyerupai ikan dan kapal-kapalan itu, tabuh rebana yang diiringi irama syair kitab barzanji bermetamorfosa menjadi goyang oplosan yang sensual, pengusung yang meneyerupai ikan Marlin tadi berubah menjadi kuda lumping dengan lidah terjulur, aroma yang tadinya bersemayam serba "daun pandan" berubah menjadi aroma olahan nira, kemana kreatifitas Masyarakat Pulau Bungin ? Kemana hasil fikir suku Bajo yang sensual pada laut itu ? Yang tadinya melahirkan pengusung Ikan, Kapal, perahu bercadik, Elang laut dll. Akankah kembali ? Kapan ? SAMPAI ENTAH !
       Keharusan untuk duduk bersama guna membahas ketergerusan ini menjadi tanggungjawab bersama, tidak berarti sikap ini anti akulturasi, tidak bermaksud pula menolak asimilasi berikut budaya barunya? Namun juga pembiaran berarti menodai keaslian, menelanjangi pakaian kearifan, melukai perasaan sejarah komunitas masyarakat laut yang "kini" hampir tiada berdaya.
Bersambung !
............................................
MARI, KITA, SEKARANG.

KEARIFAN LOKAL MENJAGA POPULASI HIU

LEGENDA SI KAREO DAN IKAN HIU (Sebuah dongeng kearifan lokal suku Bajo dalam menjaga kelestarian populasi Hiu)


Oleh : Sahabuddin Tison, Serial Hiu


            Dikisahkan dalam penuturan orang-orang tua masyarakat laut, bahwa ada sebuah pulau yang sangat bersih, indah dan elok.Pulau tersebut terletak di tengah laut menjelma berupa gundukan pasir putih yang timbul kala air laut surut, oleh karena letaknya yang sangat indah, maka lambat laun pulau tersebut menarik perhatian beberapa masyarakat pesisir sekitarnya untuk bermukim, hinga pada suatu ketika ada seseorang nelayan tua yang mencoba tinggal dan membangun rumah panggung di pulau tersebut. Oleh karena menjanjikan kehidupan yang layak sebagai nelayan, maka nelayan lainpun mulai tertarik untuk membangun rumah dan tinggal di pulau tersebut. Dari tahun ke tahun  pulau tersebut mulai ramai didiami oleh masyarakat nelayan, hingga pulau itu diberi nama Pulau Samo.Sebagaimana layaknya pemukiman, tentu banyak sekali dinamika yang terjadi,seperti rutinitas masyarakatnya, kegiatan kesenian, kebudayaan, dan kesibukan sebagai nelayan. Pada perkembangannya, sudah banyak berdiri berjejer rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu di sepanjang tepian Pulau Samo, takjauh dari tepian itu, berjejer pula perahu-perahu nelayan dengan segala bentuk dan ukurannya.
            Pada suatu ketika, seorang bocah yang berasal dari Pulau Samo bernama Kareo bergabung dalam sebuah rombongan masyarakat nelayan berlayar ke suatu pulau tak berpenghuni untuk mengumpulkan kerang-kerangan, perjalanan ditempuh dalam waktu tujuh hari tujuh malam, ditempuh dengan menggunakan armada kapal yang lumayan besar, selama perjalanan ombak sangat besar dan badai sesekali melintang, Kareo sama sekali tidak terganggu oleh ganasnya alam, ia sadar sebagai seorang yatim piatu harus tegar dan tidak boleh mengeluh, demi menafkahi neneknya yang tua renta. Saat kapal tiba di tujuan,jangkar dilabuhkan dan  penumpang kapal segera turun untuk mencari kerang-kerangan. pada hari pertama, Kareo mendapat hasil kerang-kerangan yang banyak, hari kedua Kareo mengejutkan bapak-bapak nelayan dengan hasilnya yang lebih banyak lagi daripada hari pertama, sampai hari ketiga kakinya tertusuk duri laut hingga berdarah, ia pun memutuskan untuk istirahat dan naik ke kapal lebih awal, sebab rombongan pencari kerang akan pulang dua hari ke depan, namun betapa kagetnya ia, ketika keluar dariselah-selah tumbuhan bakau, dengan langkah kaki yang tidak tegak karena menahan sakit, betapa kagetnya dia saat perairan tempat mengambil kerang itu sepi,tidak ada satu perahu pun yang berlabuh, jangankan berlabuh, yang melintasi saja tidak ada. Darah terus mengalir deras dari telapak kaki kirinya yang tertusuk duri laut, dipikulnya kerang-kerangan itu di pundak kanannya yang sangat berat, ia berjalan menyusuri hamparan pasir di surutnya air laut itu, iaterus mencoba melayangkan pandangan namun tak jua ada jejak dilihatnya. Atas kondisi seperti itu Kareo berfikir barangkali ada orang jahat yang membawa kapal mereka dan rombongan masih berada di antara semak tumbuhan laut itu, iapun memutuskan untuk mencari pencari kerang yang lain di dalam lebatnya tumbuhan bakau, barangkali mereka bernasib sama, fikirnya, kerang di pundak ituia letakkan, sementara kakinya kian pucat dan darah terus mengalir. Ketika berada di dalam lebatnya tumbuhan bakau, tidak ada seorangpun dari rombongan pencari kerang itu, ia kembali keluar menuju tepian namun hanya matahari yang hendak terbenam yang membayang. Ia mulai curiga bahwa rombongan pencari kerang tersebut bermaksud membuatnya celaka, karena di antara pencari kerang hanyaKareo yang mendapat kerang berlipatganda jumlahnya, barangkali ada kecemburuan atas hasil kerang yang ia dapatkan, fikirnya.
         Di tengah perjalanan rombongan pencari kerang, nahkoda mulai mencari-cari kareo, seluruh anak buah kapal dicek satu persatu, kemudian salah seorang dari pencari kerang itu menghadap ke nahkoda bahwa mereka melihat Kareo sedang dililit Ular tumbuhan bakau, dan Kareo tidak bisa memberi perlawanan sehingga ia tewas dan dibawa ular itu ke dalam lebatnya tumbuhan bakau, mendengar itu semua, nahkoda kapal terkaget-kaget dan merasa kehilangan, semua penumpang kapal dikumpulkan dalam sebuah rapat untuk membahas kematian Kareo yang dimakan ular, sebab nenek Kareo dan orang-orang di Pulau Samo tidak akan percaya begitu saja, sehingga mencapai mufakat bahwa setibanya di Pulau Samo, akan langsung melapor pada Imam Masjid dan Kepala Kampung.
           Matahari sudah terbenam, airlaut kian pasang, tidak ada tempat bagi Kareo untuk berteduh dan mengamankan diri, ia merasa seperti hendak pingsan akibat darah yang terus mengalir dari kakinya, ia pun berjalan tawakkal menyusuri tepian tanaman bakau satu demi satu hendak mencari tempat berteduh, setelah berjam-jam, air pasang terus meninggi,mulai dari lutut hingga pinggangnya, kerang yang sedianya ia bawakan untuk kebutuhan belanjanya bersama neneknya tidak terhiraukan lagi. Tanpa terasa airsudah sampai setinggi leher, sepertinya tidak ada lagi pertolongan, pasrah menerima nasib yang menimpanya disebabkan sentiment atas hasil tangkapannya, iamengapungkan diri terbawa arus di sekitar perairan pulau kerang itu, sembari melantunkan ayat-ayat suci Al-qur’an, ia menitiskan air mata sembari berdo’a semoga Allah SWT menurunkan keajaiban padanya, baru saja ia hendak terlelap mengapung seketika datang menabrak punggungnya dengan keras, seekor ikan hiu,ia pun tersadar dan melihat ikan hiu mengitarinya seperti hendak menerkam,spontan dengan sekuat tenaga ia berenang ke pohon bakau yang setengahketinggian pohon itu juga sudah terendam air laut pasang, situasi senyap,gelap, makhluk itu hilang seketika, lalu tiba-tiba permukaan laut membuncah didepannya hingga gelombang laut yang ditimbulkan menenggelamkannya, saat ia muncul ke permukaan maka nampak jelas hiu raksasa berada tepat di depannya, tanpa diduga-duga hiu itu menyampaikan pesan bahwa ia diperintahkan untuk menyelamatkan Kareo, tanpa menunggu jawaban dari Kareo, hiu itu langsungberbalik arah dan meminta Kareo untuk menungganginya, merasa yakin dengan hiuitu, Kareo pun menungganginya, dengan nada sayup-sayup Kareo mengatakan bahwaia tidak kuat untuk berpegangan, lalu hiu itu memberikan pilihan, menempuh perjalanan dengan secepat kilat atau melewati sebuah perkampungan terumbu karang yang indah di lautan yang sangat dalam dan itu akan menghibur Kareo,lalu Kareo menyanggupi untuk melewati dasar lautan yang dalam dan melintasieksotisme terumbu karang dan segenap penghuninya, namun ia kembali bertanya “bagaimana aku harus menahan nafas,sedangkan aku manusia tidak sepertimu yang hidup di alam bawah laut ini, tidakkahaku akan kehabisan nafas ?“ Tanya Kareo, lalu hiu itu meyakinkan bahwa dengan berdo’a yang tulus akan datang keajaiban pada Kareo dan bernafas serasa seperti di daratan, lalu ia kembali bertanya “lalu bagaimana aku harus menunggangimu, sedangkan kamu sangat besar ?”Tanya Kareo lagi, sebab ukurannya sama besar dengan kapal yang membawa rombongan pencari kerang itu, “denganmenunggangiku akan terasa seperti duduk di singgasana, naiklah ke punggungku,tenanglah maka kau akan melihat semua penduduk bawah laut, dan kita akan sampaidi Pulau Samo dalam dua malam saja, sedangkan temanku akan membawa kerang yangkau kumpulkan” jawab Hiu itu dengan tuntas. Kareo sangat senang danlangsung menunggangi Hiu yang ia beri nama Lanjar itu, barusaja Kareo hendak menunggangi Lanjar, tiba-tiba ia hendak pingsan, tak kuasa ia mengangkat kakinya yang penuh dengan darah yang mengalir, betis hingga pangkal pahanya pucatnampak seperti tak berdarah, ia merintih, melihat itu Lanjar bertanya ada apadengan kaki Kareo, lalu ia memberitahu Lanjar, kemudian Lanjar meminta Kareountuk melukai sedikit siripnya, dimana akan keluar minyak yang bisa dioleskan pada luka kaki Kareo, namun Kareo tak tega melukai sirip Lanjar, melihat Kareoyang merintih kesakitan, Lanjar kembali meyakinkan bahwa ia tidak akan apa-apadan memang hanya itu obat satu-satunya, lalu Kareo menggoreskan kuku tangannya pada sirip Lanjar yang mulai mengapungkan diri, spontan keluar darah dari siripnya, Kareo memalingkan wajahnya, tak sanggup ia melihat, sesaat kemudian darah itu berhenti kemudian disusul oleh minyak, Kareo meniriskan jempol tangannya lalu diusapkan pada luka telapak kakinya yang menganga, luka itutertutup, darah berhenti mengalir, badannya yang meriang berganti segar bugar, kondisinya fit dan siap tancap gas melayang di sirkuit bawah laut yang indah, seperti Kareo, luka di sirip lanjarpun tertutup dengan sendirinya, keduanya taksabar, Kareo menghela nafas panjang sembari memegang erat sirip Hiu raksasa itu, Lanjar mulai menenggelamkann tubuhnya, kemudian gassssss !!!!!!. sejenak Kareo tersentak, ia tak bisa menjaga keseimbangan, badan seperti melayang diudara saja, untung saja tangannya kuat memegang sirip Lanjar, menyadari itu,Lanjar mengurangi kecepatan dan menyesuaikan, tiba-tiba waaaaaaaawww !!! teriakKareo terkagum dan merasa gembira melihat indahnya dunia bawah laut yang penuheksotisme, Terumbu Karang yang warna-warni, ikan-ikan yang menari mengitarikarang-karang cerah, belut berwarna pelangi menjulurkan kepala bak menengoksesuatu dari jendelanya, gurita yang tiba-tiba berubah warna, Lanjar hanyatersenyum mengetahui Kareo terpesona, ia pun mengibaskan siripnyamelenggak-lenggok, menikung dan naik turun, Kareo seperti naik rollercoaster,pemandangan benar-benar menyuguhkannya bagai di syurga, padahal tiada sinaryang menyinari di bawah sana, namun rumah-rumah ikan sangat terang benderang.
Fajar kini mulai menyingsing,keduanya semakin asyik saja, tiba-tiba ada segerombolan mahkluk besarmenyalipnya kencang, lalu makhluk itu menurunkan lajunya persis di hadapanLanjar, eh ternyata kawan-kawan Hiu Lanjar, mereka lalu membentuk formasi,nampaknya ikut merasa senang mengantarkan karoe pulang, jumlahnya ada tujuhHiu, empat di kanan dan tiga di sebelah kiri, saat pagi datang rombongan Hiuitu memperlihatkan kebolehan mereka membentuk formasi, Lanjar hanya terdiamsaja, tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, Kareo tak sadar gembirakegirangan melihat formasi yang unik itu, ia sendiri sampai menepuk-nepukpunggung Lanjar, waaaawwwww !!!, bak dihipnotis akan keindahan yang tersuguh,tak disangka Lanjar mendadak berhenti dan berbalik arah sehingga kareoterlempar yang lalu disambutnya kembali, tak disangka Lanjar sengajamengagetkan Kareo, bercanda seperti dua bocah bersahabat, bersenda guraumenikmati alam bawah laut, terkadang melaju dengan kecepatan tinggi, menikung,rupanya Kareo juga sudah paham cara berpegangan sehingga nampak seperti Jokiyang menunggangi Kuda pada pacuan bergengsi, kadang ia dan Lanjar bersama hiulain menjadi tontonan yang menarik perhatian ikan-ikan clownfish, lionfish,penyu, sting ray (ikan pari) kadang terkaget lalu berpindah tempat, ikan-ikanlain menjulurkan kepala di lubang-lubang dan sela-sela dahan karang bagai menyaksikan sesuatu di atas dan halaman rumah dari jendela.
          Tiada terasa petualangan singkat Kareo dan Lanjar bersama Hiu-hiu lainnya, jarak sudah dekat dengan Pulau Samo, berat nian hati ingin berpisah, air mata Kareo berurai tak tertahankan. Setelah berada di perairan  Pulau Samo,Lanjar berhenti, teman-teman Hiu itu pun berhenti, saling menatap, terdiam, bahasa tubuh sebagai pertanda tidak menghendaki perpisahan, tanpa diberikanaba-aba, salah satu dari rombongan Hiu itu merapat ke tepian lalu meletakkan kerang hasil tangkapan Kareo, setelah meletakkan ia memandang ke arah Lanjar dan teman-teman Hiu lain, semua masih terdiam, seperti semakin berat saja untuk berpisah, dua hari bersama, menyelam bersama, menikung dan melayang bersama diareal Terumbu Karang memang tidak mudah untuk diterima kala perpisahan sudahtiba, namun Lanjar sudah melaksanakan tugas menolong anak yatim piatu yang berbakti pada nenek sematawayangnya, rupanya memang tak sekedar menjalankantugas, keduanya sangat akrab lebih dari tugas yang diberikan. Setelah cukup lamaterdiam berat untuk berpisah, akhirnya Kareo turun dari tunggangannya untuk mencium dan mengusap kepala Hiu teman-teman Lanjar baru kemudian ia menghampiri Lanjar, Hiu yang sudah menghiburnya, Hiu yang memperkenalkan kecantikan alam bawah laut, lebih daripada itu Hiu yang sudah menyelamatkan nyawanya darikedengkian padanya, tadinya ia mencoba mencari keajaiban hendak berenang kePulau Samo namun dengan kehadiran Hiu ksatria itu keadaan lebih baik. Lamasaling menangisi, Kareo berjalan ke tepian  semakin terisak, sebentar lagi matahari akanterbit, embun mulai tersapu sirna, air laut mulai pasang hingga lehernya,persis keadaan dimana ia ditemui Lanjar malam itu, ia menengok ke belakangsembari memikul kerang hasil tangkapannya, Lanjar masih menatapnya dan belumsedikitpun bergeming, sementara teman-temannya berbaris di belakangnya, Kareosemakin bersedih tak kuasa menahan isaknya keluar sumpah dari mulutnya denganlantang “Hai langit ! Hai Bumi ! dan lautluas yang biru !, dengarkan dan saksikan !! bahwa aku tidak akan memakan danmencelakakan Ikan Hiu, bahkan sampai tujuh turunan pun aku tidak perkenankan,jika janji ini dilanggar maka aku siap dimakan sumpah dalam bentuk apapun”mendengar itu Lanjar hanya menjawab “jikaingin memanggilku, berjalanlah hingga air pasang sampai lehermu, dan jika ingintetap bertemu denganku, cukup kau menyayangi nenekmu” mereka kemudian berpaling dari Kareo masuk ke dalam air dan meninggalkan Kareo, permukaan air jadiberiak, nampak ia mengibaskan siripnya dengan kencang.
          Kepulangan Kareo yang tiba lebih dulu dari rombongan pencari kerang itu menjadi tanda tanya warga, neneknya lalu menyarankan agar ia melaporkan diri pada Kepala Pulau sebelum pakaian kering di badan, memang Kareo belum sempat bercerita panjang padaneneknya, sementara warga juga belum banyak tahu akan kepulangan Kareo yang tanpa rombongan itu, setelah berada di rumah Kepala Pulau, ia pun bercerita panjang sembari memperlihatkan kerang hasil tangkapannya, mendengar penuturanitu, Kepala Pulau langsung memanggil para tetua Pulau untuk merundingkanperihal ini, akhirnya keluarlah keputusan untuk membuktikan Kareo diperlakukanseperti yang Kareo ceritakan maka Kepala dan tetua Pulau bersepakat untukmenyembunyikan Kareo di dalam kamar Kepala Pulau sampai menunggu kedatangan rombongan pencari kerang dan mendengarkan keterangannya, semua bersepakat lalu keberadaan Kareo pun disembunyikan hingga kedatangan rombongan pencari kerang, setelah menunggu beberapa hari maka ada kapal yang barusaja merapat di tepian,ternyata benar itu adalah rombongan pencari kerang, sudah banyak ibu-ibubakulan yang menunggu kapal untuk bongkar muatan namun juragan memimpinrombongan turun dari kapal menuju rumah Kepala Pulau, di dalam rumah Kepala Pulau sudah berkumpul tetua pulau, warga terlebih ibu-ibu bertanya-tanya apa gerangan yang sedang terjadi, namun tak seorangpun bisa menjawab keadaan sebelum semua bertemu di rumah Kepala Pulau, sementara nenek Kareo berusaha tenang sebab ia yakin cucunya ia kenal dan pasti tidak bersalah. Setelah tibadi halaman rumah Kepala Pulau, salah seorang tetua pulau turun dari rumah untuk menjemput lalu mempersilahkan untuk naik ke rumah, tanpa disadari suasana begitu cepat heboh, mulai dari anak-anak sampai ibu-ibu berkerumun datang kerumah Kepala Pulau, kepala bersusun mengintip di sela-sela sambungan dinding rumah, di dalam nampaknya suasana begitu tegang, di ruang depan sebagai ruang tamu sudah duduk bersila dengan formasi melingkar Kepala Pulau dan segenap tetua pulau, sementara Kareo disembunyikan di dalam kamar dan ia sendiri mengintip dan dapat menyimak jelas ke ruang depan sebab hanya disekat dinding bambu,“kedatangan kami ke rumah Tuan KepalaPulau ingin menyampaikan laporan duka kami selama mencari kerang” Juragankapal memulai pembicaraan “berita apa itujuragan ?, silahkan ceritakan pada kami !” sahut Kepala Pulau “beberapahari yang lalu kami berangkat ke Pulau kerang untuk mengumpulkan kerang, kamiberjumlah tiga belas orang, setelah beberapa hari di Pulau Kerang, beberapa diantara rombongan kami melihat Kareo dililit ular bakau yang besar, ia tewas dandiseret ke dalam lebatnya hutan bakau, kami tidak bisa berbuat apa-apa” jelasjuragan sembari menundukkan kepala, “semuaterjadi begitu cepat, sepertinya kami tidak sanggup menyelamatkannya darililitan kuat ular bakau itu” tambah salah seorang anggota rombongan pencarikerang yang iri,  ia pula yang membawaberita tidak benar pada juragan dan yang lainnya, ibu-ibu yang mendengarpenjelasan itu berurai airmata mengasihi Kareo, membayangkan ia tidak berdayadan berteriak merasakan badanyya terkoyak dan tercabik-cabik, merasakantulang-tulangnya remuk dililit ular itu, “terimakasih atas penjelasan tuan juragan dan rombongan, namun untuk meyakinkan kami, apakah tuan juragan dan segenap rombongan sebagai saksi untuk bersumpah atas kebenaran musibah ini ? sebab ini akan dipertanggungjawabkan di hadapan tetua kampong dandi hadapan Tuhan” pinta Kepala Pulau, “baiklahkami bersedia bersumpah di atas kitab suci dan bertanggungjawab atas kebenaran kejadian ini” jawab juragan, Kepala Pulau kemudian mempersilahkan tetuaPulau untuk mengambilalih proses pengambilan sumpah ini. Pengambilan sumpahselesai, semakin banyak warga yang datang dengan airmata berlinang, “dimohonkepada tuan juragan dan rombongan untuk tetap di tempat, sebab tuan KepalaPulau ingin memperlihatkan sesuatu” pinta salah seorang pembantu resmi Kepala Pulau, dengan berjalan pelan-pelan Kepala Pulau mendampingi Kareo memperlihatkan dirinya pada tuan juragan dan rombongan pencari kerang, betapa terkagetnya juragan dan rombongan melihat Kareo yang hidup dan tak kurang satu apapun, muka mereka pucat, saling menatap satu sama lain, Kepala Pulau kemudian meminta Kareo bercerita tentang kejadian sebenarnya, tanpa menunggu lama-lama Kareo menceritaka pengalaman selama berada di Pulau Kerang sampai bagaimana ia diantarkan oleh Lanjar, Hiu yang diutus untuk menyelamatkan dirinya, setelah semua tahu maka terbuktilah siapa yang salah dan membawa berita bohong, warga yang berkumpul di sekitar halaman rumah Kepala Pulau sontak menyoraki rombongan Pencari Kerang, adapun juragan menangis sebab atas kecerobohannya membawa berita, “Tuan Kepala Pulau, !!! kami akui kami membawa berita bohong, kami bersalah, dan kami siap menerima hukuman yang seberat – beratnya” pinta tuan Juragan, yakni dengan tidakmencelakakan ikan Hiu, tidak memakannya, bahkan ikut menjaga kelestarian ikan Hiu, bahkan !!! sampai tujuh turunan tidak memakan Hiu” pinta Kareo yang masih terkenang Lanjar, “baiklah, tetua pulau agar segera menyiapkan sumpah sesuai permintaan Kareo, tanpa mengurangi hukum Pulau Samo yang berlaku” perintah Kepala Pulau dengan lantang “siap tuan Kepala Pulau” sahut tetua pulau yang kemudian mengangkat sumpah Juragan bserta rombongan pencari kerang, mereka jugadihukum untuk membersihkan perairan Pulau Samo setiap hari selama tiga tahun. Demikianlah cerita “Legenda Kareo dan Ikan Hiu” yang diangkat berdasarkan penuturan orang-orang tua nelayan, sehingga sampai saat ini ada beberapa keturunan masyarakat nelayan yang tidak boleh memakan Hiu, jika ia memakannya maka ia akan mendapat celaka atau badannya terasa gatal hingga luka-luka dengan sendirinya, tidak sekedar akibat memakan, bahkan konon tidak boleh mengambil keuntungan dari Ikan Hiu, baik penjualan ataupun imbalan jasa lainnya yang berkaitan dengan Hiu, cerita ini pula yang menjaga kelestarian berbagai spesies Ikan Hiu di Pulau Samo.
SEKIAN….!!!

MADUTAI TOYAH (Ritual Menanamkan Karakter Kebaharian Ala Suku Bajo)

MADUTAI TOYAH (Ritual Menanamkan Karakter Kebaharian Ala Suku Bajo)


Oleh : Sahabuddin Tison

            Menyadari dirinya menggantungkan hidup di laut, orang-orang Bajo memperhitungkan sebuah eksistensi kehidupan di laut, bagaimana ia memperlakukan dan diperlakukan laut dalam waktu yang lama dengan tetap dalam kondisi bersahabat. Orang-orang Bajo juga menyadari bahwa laut tidak selalu tenang dan dan bisa ditaklukkan, sehingga dalam mengarungi laut dibutuhkan mental dan jiwa kebaharian yang tinggi, tidak saja persiapan mental namun persiapan fisikpun harus digembleng dalam bergaul dengan laut.
Sehingga Orang-orang Bajo mempersiapkan segala halnya bagaimana racikan agar tetap eksist di laut dalam keadaan tenang dan bisa tampil gagah, agar nahkoda tetap bisa tampil bermartabat di laut, agar awak kapal tetap tampil terampil diombang ombak, agar fikir tetap fokus dan tidak terganggu ganasnya badai dan gelombang, ternyata orang-orang Bajo melahirkan sebuah ritual adat yang disebut Dutai Toyah.
Secara harfiah Dutai Toyah memiliki terjemahan Dutai berarti naik, Toyah berarti wadah berupa ayunan, Dutai Toyah berarti manaiki "ayunan", lebih dalam secara istilah suku Bajo berarti menjalani ritual menaiki ayunan sebagai bentuk penggemblengan dini pada anak-anak Bajo sebelum ditempa gelombang besar dan badai yang ganas.
Di dalam ritual ini, anak-anak belia suku Bajo akan diayun selama kurang lebih 2-3 hari, dipimpin oleh seorang pendamping spiritual/sandro lengkap dengan sesajennya, orang yang ditoyah akan dipangku sandro untuk menduduki naik pada Toyah tersebut, kemudian menyanyikannya kisah-kisah pertempuran laut, kisah-kisah pelayaran, nasihat-nasihat pelaut dll yang dituangkan dalam bentuk Iko-iko, yakni syair khas suku Bajo.
             Melalui ritual madutai toyah, seorang anak diharapkan mampu memahami ilmu navigasi, paham cuaca, mampu berfikir tenang di tengah gelombang dan mampu bertahan secara mental dan fisik selama dalam pelayaran dengan segala resikonya. Yang lebih menarik, secara filosofis Madutai Toyah mampu melahirkan sosok yang siap total dalam menjalani kehidupan dengan segenap tantangannya, suatu kombinasi yang luar biasa, yang melahirkan anak-anak pelaut yang tangguh, berwibawa dan cerdas. Laut mana yang tak bisa diarungi jika wibawa sudah menjadi pertaruhan punggawa bermental baja, samudera mana yang tak bisa ditaklukkan jika darah sudah menyatu bersama gemuruh ombak yang membuncah, sudah barang tentu menjadi hal yang memalukan jika pelaut terlebih seorang punggawa bermental teri, dibelai ombak laut menjadikannya muntah-muntah, rindu rumah dikala berlayar menahun di tengah laut.
            Sedangkan posisi Madutai Toyah di dalam suku Bajo itu sendiri tidak menjadi sebuah keharusan, melainkan sebuah kebutuhan setiap anak-anak belia yang memperlihatkan tanda-tanda loyo dan cengeng, melihat kondisi ini orang tua memutuskan untuk menempuh ritual ini. Madutai Toyah ini pula yang memelihara jiwa dan karakter tarung samudera para pemuda Bajo yang gemar bercengkerama dengan badai dan ombak